Menabung Benih (repost)

Menabung Benih (repost)
  1. KENAPA MENABUNG BENIH
  2. Benih adalah segumpal potensi hidup. Lewat potensi ini, roda kehidupan diberi kesempatan untuk terus berputar. Lewat sayur, semak, hingga pohon yang dihasilkan, mulut-mulut tersuapi, tanah pecah menjadi rongga-rongga, dan bentang alam terjaga dari erosi, kekeringan, maupun angin kencang.

    Terjaganya kehidupan semestinya terberi, bukan untuk jual-beli. Memang, jual-beli benih sudah lumrah sejak lama. Akan tetapi, dewasa ini benih-benih diperjualbelikan tidak hanya dalam bentuknya yang biasa, namun telah pula dipatenkan berdasarkan pola genetik yang diutak-atik di beberapa laboratorium negara-negara pongah. Pola-pola daya hidup telah dikuasai oleh sebagian orang demi keuntungan, dan ini justru berarti musibah bagi kalangan yang jauh lebih luas, mulai dari munculnya penyakit-penyakit baru hingga meluasnya kerusakan tanah. Silakan pelajari lebih banyak tentang fenomena ini, yang gampang dicari dengan kata kunci genetically modified organisms (GMO), atau baca pengenalannya di sini dan di sini.

    Cara terbaik untuk berkebun adalah dengan meniru pola-pola di alam — istilah gampang dan kerennya: organik. Satu bagian penting dalam berkebun organik adalah benih-benih yang organik pula. Artinya, benih-benih yang terbentuk secara wajar di alam, meski dengan sedikit bantuan tangan manusia, seperti untuk penyerbukan atau karantina demi mencegah persilangan.

    Memiliki kebun organik adalah salah satu cara Anda bisa terus menanam tumbuh-tumbuhan organik tanpa harus membeli benih. Anda pun bisa berbagi bila benih berlebih. Lewat cara-cara yang tepat, kebun Anda akan menjadi sumber benih yang tidak kenal lelah dalam menghasilkan potensi-potensi hidup baru.

    Berikut adalah panduan menabung benih dari kebun sendiri, disusun dari berbagai sumber tertulis yang didasarkan pada pengalaman para pekebun.

  3. KENALI JENIS BENIH
  4. Benih-benih timun duri dan hasilnya. Foto: Bekabuluh.
    Benih-benih timun duri dan hasilnya. Foto: Bekabuluh.
    Berdasarkan teknik persiapan penyimpanan, benih dapat dibagi ke dalam dua kategori, yakni benih kering dan benih basah. Benih kering adalah biji tanaman apapun yang cukup ditunggu hingga menua lalu kering pada tangkainya sebelum diambil. Contoh benih-benih semacam ini adalah yang berasal dari cabai, sawi-sawian, dan kacang-kacangan.

    Benih basah adalah biji tanaman apapun yang perlu ditunggu hingga matang pada tangkainya sebelum dipetik untuk kemudian difermentasi atau direndam air hangat lalu dijemur. Benih-benih ini biasanya berasal dari tumbuh-tumbuhan yang buahnya memiliki lendir seperti tomat, labu-labuan, timun-timunan (termasuk melon dan semangka), markisa, dan aneka terong. Lendir pada buah-buahan dan sayur-sayuran ini merupakan medium bagi tersimpannya bibit-bibit penyakit dari tanaman induk, dan fermentasi ataupun perendaman dalam air hangat merupakan dua cara yang efektif untuk menghilangkannya.

  5. FERMENTASI & PERENDAMAN DI AIR HANGAT
  6. Memfermentasi benih tomat. Foto: Bekabuluh.
    Memfermentasi benih tomat. Foto: Bekabuluh.
    Benih jenis basah harus ditunggu hingga melewati masa matang sebelum dipetik. Setelah itu, biji-bijinya dipisahkan untuk dimasukkan ke dalam wadah kaca (toples atau botol) berisi air hingga terendam seluruhnya. Tidak perlu menambahkan lendir yang ada pada buah, cukup yang menempeli biji saja. Tutup wadah rapat-rapat, kemudian simpan di tempat yang gelap dan sejuk (20-30 derajat Celsius) selama 1,5 hingga 5 hari tergantung jenisnya (rincian per jenis tanaman dapat dibaca di bagian akhir). Sebagian orang bereksperimen dengan mencampurkan ragi atau cairan mikroba khusus ke dalam larutan fermentasi, terutama untuk benih tomat.

    Fermentasi ditandai dengan munculnya gelembung-gelembung udara atau selaput putih di permukaan air yang biasanya menguarkan bau menyengat. Segera setelah gelembung atau selaput terbentuk, tuang isi wadah ke dalam mangkok berisi air dan aduk-aduk sebentar. Benih-benih yang baik akan tenggelam, sedangkan yang buruk atau mati akan mengapung. Buang cairan dan benih-benih mati, lalu sebarkan benih-benih yang baik pada alas untuk dikeringkan di sinar matahari atau diangin-anginkan. Penggunaan tisu atau kertas sebagai alas tidak disarankan karena dapat menempel pada benih dan dapat merusaknya pada masa penyimpanan. Sebaiknya pilih alas penjemuran yang licin seperti piring atau mangkok kaca/keramik.

    Memfermentasi biji terlalu lama akan berakibat pada mengecambahnya benih, sehingga harus segera ditanam dan tidak dapat disimpan. Bila tidak segera ditanam, biji yang telah berkecambah di dalam cairan fermentasi akan mengalami pembusukan apabila terus dibiarkan, dan akan mati apabila disimpan. Benih yang cepat berkecambah selama fermentasi biasanya berasal dari jenis labu dan terong, yang sebenarnya tidak memerlukan proses fermentasi apabila berasal dari induk yang sehat.

    Cara lain untuk menghilangkan bibit-bibit penyakit dari benih adalah dengan merendam biji-biji dalam air hangat untuk waktu yang singkat. Perendaman pertama dilakukan selama 10 menit di air hangat (kurang lebih 37 derajat Celsius). Berikutnya benih direndam kembali dalam air dengan kehangatan sekitar 47 hingga 51 derajat Celsius selama 15 hingga 30 menit. Buang benih-benih yang mengapung, kemudian rendam benih untuk terakhir kalinya dalam air biasa sebelum pengeringan. Pastikan seluruh benih terendam air pada tiap perendaman.

    Perendaman di air hangat lebih berisiko dan membutuhkan ketelatenan ekstra. Apabila air terlalu panas atau perendaman dilakukan terlalu lama, benih bisa rusak atau bahkan mati. Selain itu, benih yang dipilih lewat proses ini biasanya hanya dapat disimpan selama setahun atau kurang. Akan tetapi, proses ini dianggap sangat efektif untuk menghilangkan bibit-bibit penyakit, sehingga dapat diterapkan tidak hanya pada benih-benih jenis basah namun juga jenis kering dari beberapa macam tanaman.

  7. PENYIMPANAN DAN LABEL
  8. Contoh pemberian label pada koleksi benih. Foto: Bekabuluh.
    Contoh pemberian label pada koleksi benih. Foto: Bekabuluh.
    Dalam jumlah kecil, benih-benih yang sudah melalui proses pengeringan dapat disimpan di dalam kantong-kantong plastik cetik (ziplock bags) maupun dalam wadah-wadah kering yang memiliki tutup seperti toples atau botol, untuk kemudian ditaruh di tempat yang sejuk, kering, dan gelap. Pilihlah kantong-kantong plastik cetik yang tidak mudah bolong atau rusak.

    Untuk benih dalam jumlah besar, seperti jagung atau padi, pilihlah wadah penyimpanan yang benar-benar kedap udara. Apabila menggunakan pot tanah liat, cat bagian luar agar pori-porinya tertutup. Bersihkan wadah hingga kering, lalu tuang benih sampai penuh. Jika jumlah benih tidak sampai memenuhi wadah, tambahkan pasir kering atau beras (yang juga bermanfaat menyerap kelembaban). Perlindungan ekstra terhadap serangga dapat dilakukan dengan menaburkan cacahan kering daun nimba (mimba/intaran) atau daun tembakau di dalam wadah. Demi menghindari lembab, jangan letakkan wadah penyimpanan di lantai, melainkan di atas sangga seperti meja, kayu, batu, atau rak.

    Demi kemudahan identifikasi, sebaiknya satu wadah digunakan hanya untuk satu jenis benih dari satu waktu panen. Kemudian beri label dengan informasi nama tanaman, waktu panen, serta asal benih. Pemberian label waktu panen penting dari segi praktis, sebab benih rata-rata dapat bertahan dalam penyimpanan untuk kurun waktu paling lama 1 sampai 5 tahun. Dan informasi asal benih, yakni dari mana benih didapat, bermanfaat jika Anda berniat menyimpan benih-benih pusaka yang perlu dijaga kemurniannya.

  9. MENJAGA PUSAKA
  10. Benih jagung kuning lokal dari Jawa Barat. Foto: Bekabuluh.
    Benih jagung kuning lokal dari Jawa Barat. Foto: Bekabuluh.
    Benih pusaka (heirloom seeds) adalah benih-benih yang tidak mengalami perubahan susunan gen dalam kurun waktu yang lama. Artinya, tidak ada perubahan bentuk, ukuran, maupun rasa dari tanaman induk ke tanaman turunan secara terus-menerus. Tanaman yang dihasilkan dari benih pusaka dapat berubah sewaktu-waktu apabila terjadi persilangan, atau apabila tanaman harus beradaptasi dengan kondisi alam tertentu. Sebagai contoh, tomat dari negara empat musim yang berhasil dikembangkan di Indonesia secara wajar kemungkinan besar mengalami penyusutan ukuran hingga peningkatan keasaman, bahkan mungkin tidak menghasilkan biji sama sekali. Itulah sebabnya, benih pusaka identik dengan lokalitas. Cabe khas Sumatra berbeda bentuk, ukuran, dan rasa dengan cabe khas Nusa Tenggara, misalnya.

    Salah satu kekayaan alam Indonesia adalah keanekaragaman floranya. Apabila tidak dijaga, keanekaragaman ini akan menyusut secara perlahan maupun tiba-tiba. Di banyak wilayah, penyusutan ini telah terjadi khususnya pada jagung, padi, dan kedelai. Benih-benih hibrida, termasuk yang berkategori GMO, sudah bertahun-tahun didorong oleh pemodal untuk dikembangkan lewat program-program ketahanan pangan pemerintah, sehingga para petani mengabaikan benih-benih pusaka. Sementara itu, lahan-lahan bagi tanaman-tanaman pusaka semakin menyempit akibat perubahan alih fungsi, misalnya lewat penggundulan hutan untuk perkebunan sawit atau perkebunan monokultur lain. Sehingga jangan heran apabila banyak spesies kini telah masuk dalam kategori langka, dan anak cucu kita mungkin hanya akan mengenal “kemang” sebagai nama kawasan di Jakarta.

    Persilangan sesungguhnya telah berabad-abad sengaja dilakukan demi mendapatkan benih unggul. Akan tetapi seringkali benih-benih turunan persilangan, atau hibrida, justru menunjukkan pelemahan kualitas ketika ditanam kembali. Maka dari itu, banyak petani atau pekebun yang mengandalkan benih-benih pusaka. Akibat banyaknya tanaman hibrida yang bertumbuhan di sekitar, persilangan dengan jenis-jenis tersebut selalu mengancam bagi orang-orang yang berupaya untuk menjaga kemurnian tumbuh-tumbuhan pusaka di kebun mereka. Jika tak keberatan untuk sedikit repot, menjaga tanaman-tanaman pusaka dapat dilakukan dengan cara: 1) isolasi jarak, 2) isolasi kurungan, 3) isolasi bunga, dan 4) isolasi waktu.

    Isolasi jarak dilakukan dengan menanam sekelompok tumbuhan pusaka dari satu varietas secara berjauhan dari tumbuhan serupa namun tergolong dalam varietas berbeda. Jarak yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman (rincian dicantumkan pada bagian akhir tulisan).

    Isolasi kurungan dilakukan dengan cara melindungi sekelompok tumbuhan dari satu varietas dengan kain tipis, sehingga cahaya matahari tetap hadir dan angin yang berhembus tidak membawa serta serbuk-serbuk dari varietas lain. Serangga yang merupakan polinator alami juga tidak dapat masuk, sehingga harus digantikan fungsinya oleh angin atau tangan manusia, baik itu dengan menempelkan bunga satu ke bunga yang lain, atau dengan menggoyang tanaman sehingga serbuk sarinya menyebar dalam kurungan.

    Isolasi bunga biasa dilakukan pada pohon-pohon buah, yakni dengan menempelkan bunga satu ke bunga lain lalu membungkus tiap bunga dengan kantong plastik. Apabila terdapat banyak bunga pada satu tangkai, seperti pada mangga, maka pembungkusan dapat langsung dilakukan per tangkai bunga.

    Isolasi waktu dilakukan dengan cara menanam sekelompok tumbuhan dari satu varietas di lingkup ruang yang aman dalam jangka waktu yang berbeda dengan penanaman varietas lain, sehingga penyerbukan/polinasi hanya terjadi pada satu varietas dalam satu musim tanam.

  11. PENYIRAMAN
  12. Pilihlah tanaman induk yang sehat dan kuat agar benih-benih yang diambil menghasilkan keturunan yang sehat dan kuat pula. Pastikan akar mendapatkan siraman air yang cukup pada masa tanaman berbunga hingga masa panen, namun biarkan tanaman kekurangan air ketika memasuki masa siap diambil benih-benihnya.

  13. BIENIAL
  14. Beberapa jenis tumbuhan tergolong bienial, yang artinya memiliki rentang hidup 2 tahun. Untuk banyak jenis tumbuhan dari negara empat musim, bienial berarti tumbuhan tersebut harus melewati satu musim dingin, atau terpapar pada frost selama beberapa minggu, sebelum menghasilkan bunga yang akhirnya menjadi benih. Contohnya adalah varietas-varietas dari keluarga sawi atau wortel.

    Sebagian pekebun di wilayah-wilayah beriklim hangat telah bereksperimen dengan mencabut tanaman bersama akar sekaligus tanahnya untuk dimasukkan ke dalam mesin pembeku (freezer) selama kurang lebih 6 minggu sebelum menanamnya kembali. Benih-benih tumbuhan bienial juga dapat disimpan dahulu dalam kulkas selama beberapa hari sampai mengecambah, untuk kemudian segera disemai di kebun atau di pot pada lokasi yang sejuk.

    Dalam perkembangannya, banyak jenis tumbuhan bienial yang telah mengalami adaptasi iklim sehingga tidak harus melewati musim dingin untuk bisa menghasilkan benih. Hanya kesabaran dan ketelatenan dalam mengadaptasi tumbuhan bienial yang bisa membuat seorang pekebun sukses mendapatkan benih-benih untuk ditanam kembali.

sumber : permablitzjogja